SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in

“Susah rasany kalo ga punya uang tuh.” ucap seorang wanita yang aku ga tau namanya. Di sebuah gang kecil saat aku tengah menikmati satu sore bersama jagoan kecilku, memang sering digunakan Ibu² untuk berbagi cerita apapun. Mulai berita artis,sampai hal yang harusnya sangat privasi sekalipun.

“Mau beli ini itu ga bisa,musti nunggu akhir bulan.” Lanjutnya

Si teman yang diajak bicara hanya diam dan sesekali mengangguk.Ia mainkan jemarinya dengan mata yang kosong. Seolah mendengar namun sepertinya hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka terdiam sejenak menahan luapan perasaan yang entah akan berujung air mata atau bukan. “Aku cuma berharap pada suamiku,semoga ia ga jatuh sakit.” Imbuhnya lagi..

“Suamimu sering lembur?” Tanya si teman

“Engga, kan kalo dia sakit berarti dia ga kerja kan..” Sahut wanita itu. Disusul anggukan kecil meng-iyakan. Mata kami sekejap bertemu.Aku jadi serba sungkan.Aku ga bermaksud menguping tapi kebetulan aku di situ. Akhirnya pelan² aku berusaha menyingkir, dari tatapan matanya.Aku ingin segera jauh dari tempat itu,namun langkah kecil anakku tidak cukup cepat untuk melakukannya.

“Dan kalo dia ga kerja,rejekinya dari mana coba??” lanjut wanita itu.

“Iya, Aku juga gitu sebenarnya Mba..”

“Kamu juga ngerasain ya Jeng??”

“Iya Mba, Suami kerjanya pas-pasan, orangtua juga udah ga bisa bantu lagi” cerita si teman sambil tetap memainkan jemarinya. “Mana kebutuhan makin lama makin banyak”

“lhoh..Aku liat suamimu sering lembur ampe pulang malem banget Jeng,banyak dong duitnya”

“Mana ada Mba,lembur iya,duit ga ngumpul”

“Gimana makannya ntar??”

“Itulah Mba”

Hadee..Miris aku dengernya. Terbersit sebuah pertanyaan di hati ku. Kenapa mereka bisa berpikir sejauh itu?

Benar jika hidup ini butuh biaya.Mulai dari makan, minum, odol, sabun, sendal, sepatu, potong kuku, gunting rambut, masak, cuci baju, ganti lampu, beli obat, ngelahirin, jenguk tetangga, arisan, semua butuh duit untuk bisa ngelakuin itu semua. Dari yang sepele hingga yang masalah berat. Jadi inget cerita seorang sahabat. Ketika ia dan istrinya lagi duduk bareng, sang istri mulai cerita tentang segala kesah dan keluhnya selama mereka berumah tangga. Istri memang memaklumi kondisi pekerjaan suaminya yang ga terlalu besar dan belum bisa di banggakan. Juga maklum jika pemasukan itu belum bisa menutupi semua pengeluaran selama satu bulannya. Dan itupun sudah ditambah melakukan usaha sampingan. Hidup dan usaha mereka ga jauh beda dengan tetanggaku. Bisa dibilang mereka sama-sama melakukannya dari nol. Hampir mirip, namun satu hal yang membedakan  mereka. Yang satu mengamalkan “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” dan yang lain tidak.

Apa maksud dari itu semua??

“Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” kurang lebih bermakna Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-MU kami memohon pertolongan”. Ayat tersebut ada pada Al Fatihah dan dibaca setiap shalat. Namun tidak sepenuhnya tertulis dalam hati,terucap lewat lisan.dan terwujud dalam perbuatan. Inti dari ayat tersebut adalah totalitas dalam penyerahan diri kepada Allah. Hanya kepada Dia kita menyembah dan bukan kepada yang lain. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan bukan kepada yang lain. Namun apa yang terjadi dengan kita?? Kita lebih sering men-Tuhankan pekerjaan kita. Bekerja seolah-olah jika tidak bekerja maka tidak bisa makan dan mati. Duit menjadi harga mati. Lupa sembahyang dan menomor sekiankan amalan lain. Kita menjadi lupa bahwa ada Allah yang memiliki segalanya, ada Allah yang memegang nafas kita. Lebih sering memohon bantuan kepada manusia yang belum tentu bisa membantu kita. Memohon-mohon bahkan sampai berlutut menghinakan diri,menjilat, mengelu-elukan setinggi langit hanya demi naik jabatan,bertambah pundi kekayaan. Kita lupa bahwa ada Allah yang Maha Kaya ,Maha Memiliki,Sumber dari segala Sumber.

Mungkin ketika kita sudah berdoa dan kita merasa sudah berusaha dengan keras namun tidak juga kunjung datang hasil yang di ingin kan. Jangan ber prasangka buruk. Karena pastilah Allah sedang menguji seberapa sabar kita berdoa dan seberapa sabar kita berusaha. Bukankah sudah disampaikan kepada kita bahwa Apakah kita akan dibiarkan saja berkata bahwa kita beriman tanpa adanya ujian. Seorang yang beriman pasti diuji. Kita di uji dengan apa yang kita yakini,apa yang kita miliki,apa yang kita hadapi. Orang sabar di uji dengan kesabarannya,orang kaya di uji dengan kekayaannya,orang miskin di uji dengan kemiskinannya,begitu seterusnya. Buktinya sederhana saja, kita tidak akan mendapatkan gelar Ahli matematika bila tidak ada yang menguji kita dengan Matematika.Belum akan di beri gelar Pakar Geologi apabila belum di uji dengan materi Geologi. Tidak mungkin meraih gelar profesor dengan ujian tingkat SD. Semua hal itu bisa menjadi pelajaran hidup kita. Bukankah sudah gamblang di tunjukan olehNya lewat kejadian yang sederhana tadi.

Bersabarlah,jadikan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in sebagai pegangan hidup. Kuatkan iman dan tegakkan shalat. Insya allah indah pada waktunya. Amiin




Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: