SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Mengenang Gempa Jogja

Hari yang indah.Kami sekeluarga telah terbangun dari mimpi semalam dan juga telah menunaikan shalat subuh.”Sudah waktunya mandi” pikirku.Kami lima bersaudara sedang asik di ruang keluarga.Ibu sedang anter laundry ke pondok pesantren.Maka adik² yang lagi enak nonton tv ku suruh segera bersiap mandi.Karena kamar mandi hanya satu,maka kami harus bergantian.Tapi namanya anak kecil pasti selalu saja ribut.Namun rasanya ada yang aneh hari ini.

Suara bergemuruh. Mirip suara kontainer lewat,sangat kencang. Tapi kami belum merasa ada apa². Kami masih melongo dan diam di tempat. Baru setelah tanah tempat kami berpijak terasa bergoyang dan ditambah teriakan adik  “GEMPAAA!!!!”  kami berhambur keluar. Kami berlari dengan berusaha tetap stabil. Kakiku terhenti. Aku ngga bisa lari. Satu hal saja. Tiga adikku masih di dalam rumah. Ku putuskan untuk berhenti dan berusaha masuk kembali. Namun getaran tanah masih perkasa dan sulit untuk melangkah. Aku hanya bisa berteriak keras memanggil nama mereka. Sambil berharap rumah kami dan rumah di sekelilingku ngga rubuh. Nyaliku makin menciut ketika kudapati getaran tanah tak jua kunjung reda. Rumah kami rumah sederhana. Terdiri dari kayu lapuk dan genting tanah liat yang tak tertata rapi. Semua kenyataan itu membuatku panik dan kalut. Aku takut. “Tamiiiiiii !!!!, Ariiii !!!!, Yoyoooo!!!”

Getaran mulai reda. Aku sudah bisa merasakan keseimbangan lagi. Rumah secara kasat mata ngga rubuh. Aku memberanikan diri untuk masuk kedalam. Belum juga kulangkahkan kaki. Adik paling kecil bernama Ari berhasil keluar kemudian memelukku. Sambil menangis dia berkata “Mas..Mas Yoyo tertimbun tembok”..

Kemudian Tami-adik perempuanku muncul. Hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuhnya. Ia pun juga menangis. Terlihat sangat shock. Tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak,ia terjebak dalam kamar mandi selama gempa tersebut sedangkan tembok disampingnya rubuh menimpa adik kami. Aku berusaha menenangkannya namun ia segera kutinggalkan karena aku harus menyelamatkan Yoyo.

Perabotan berserak tak beraturan,membuatku harus melompat kesana kemari. Pecahan piring,gelas,seng,genting semua membuat aku semakin panik. Bagaimana adikku nanti?? Aku sampai di belakang rumah. Dimana aku lihat tembok tetangga menganga besar dan rubuh kearah rumah kami. Gurat hasil gesekan dengan tembok rumah terlihat jelas. Aku memandang sekeliling,mencari keberadaan adikku.

“Yoyooo!!”…

Aku panggil namanya. Nama panggilan yang mengisyaratkan bahwa dia anak yang sangat aktif. Namun sekarang tak tahu dimana posisinya. Aku lihat dengan seksama. Aku lihat ada tangan kecil yang lemah diantara tumpukan bata yang memenuhi belakang rumah kami. Segera aku sibakkan batu² yang menguburnya. Lengannya mulai nampak ,terus aku ikuti ke arah tubuhnya. Aku panggil² namanya. Menunggu respon darinya. Ia hanya mampu berkata  ” Toloong..” Adikku Han,datang membantu.

Ia di pelukku sekarang. Kami berhasil mengangkatnya dari timbunan bata tersebut. Perlahan aku bopong dia. Pelan² kami lewati perabotan yang berserakan dan pecahan piring. Di pintu kami dapati keluarga yang lain dalam keadaan baik. Namun mata mereka berubah panik setelah mendapati luka di tubuh dan tangan Yoyo. Tangannya sobek besar dan dalam. Darah mengucur membasahi baju dan celanaku. Seorang tetangga kami segera berlari mengambil kendaraannya dan dengan setengah berteriak dia memanggilku. “Mas Wawan! cepat! bawa ke Patmasuri saja, yang dekat”

“Iya Pak” Sahutku setengah berlari. Aku duduk di boncengannya. Kami meluncur dengan cepat. Sempat kami berpapasan dengan Ibu. Tampak Ibu berdzikir melihat darah di tubuh anaknya. Ibu mencoba untuk tetap tenang.

“Ga papa Bu. Kami ke Patmasuri”

Kami sudah di jalan. Menuju selatan, ke sebuah rumah sakit swasta,Patmasuri. Di jalan penuh dengan orang yang panik. Banyak diantara mereka yang belum memakai baju namun sudah berlari ketakutan, beberapa bertelanjang dada, menangis hingga ada yang pingsan. Tembok rubuh, pagar melengkung, beberapa tiang listrik ambruk membuat suasana waktu itu begitu mencekam.

Kami sampai di Rumah Sakit Patmasuri. Tak kami duga. Halaman RS yang sempit sudah penuh dengan korban gempa. Orang tua, anak², lelaki, perempuan. Merasakan yang sama, kami ketakutan. Aku meletakkan adiku di ranjang rumah sakit. Aku mencari dokter yang ada. Namun kata penjaganya, dokter datang jam sepuluh siang nanti. Sedangkan sekarang belum genap jam 6.30. Penjaga itu hanya memberi infus dan kain kasa beberapa gulung.

“Bersihkan lukanya dengan infus ini dan tahan dengan kain kain agar darah tidak mengucur” pesannya

Baik. Terima kasih”

Aku segera berlalu. Manghampiri adikku yang bersimbah darah. Ia kesakitan. Tangannya kotor penuh dengan pecahan batu bata,luka sobeknya sangat dalam dan panjang. Dengan sedikit menahan rasa mual melihat darah, aku beranikan diri untuk mencucinya.

“Kalo bukan aku yang membersihkannya, menjaganya. Lalu siapa?” batinku menguatkan.

Bismillah. Aku mulai membersihkan luka itu. Pecahan bata masuk kedalam lukanya. Aku semprot dengan cairan infus,aku basuh lagi hingga bersih. Tubuhku gemetaran. Tubuhku menjadi lemah. Belum sarapan dan darah di depanku membuat ku bergetar. Ku tengadahkan kepalaku,kulihat sekeliling. Astaga..

Korban gempa yang kulihat beraneka luka. Seorang anak dengan pipi yang terbelah, seorang ayah yang sobek besar di kepalanya, seorang remaja putri yang sobek di kaki pahanya. Membuat aku semakin gemetaran.

“Allah,Allah,Allah “ku ucap pelan berkali². Kumohonkan kekuatan untuk menghadapi ini semua.

Seorang ibu menepuk pundakku. “Yang kuat nak. Hadapi kenyataan. Kalo kamu ga kuat,adikmu semakin lemah”

“Ya bu” ucapku

Ibu itu melanjutkan membasuh luka putranya. Pipi putranya yang terbelah oleh genteng. Mirip terbelahnya daging kambing sewaktu hari raya qurban, menggelantung. Sangat mengerikan.

Aku kembali membasuh luka tangan adikku. Setelah ku rasa bersih. ku tutup dengan kapas dan ku ikat dengan kain kasa.

Ibuku sampai di RS kemudian menghampiri kami. Menanyakan keadaan kami. Dan memberiku air putih. Kami sepakat untuk bertahan disini sementara.

” TSUNAMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII..!!!! ”

Tiba-tiba massa yang banyak berlarian ke arah utara. Sangat banyak. Aku merasa aneh dengan kata yang mereka teriakkan. Tsunami??

Apa mereka bercanda?? Bukankah ketinggian Kota Jogja kurang lebih 100 meter diatas permukaan laut? Bukankah Kota Jogja berada 30km dari pantai?? Bukankah ada bantaran pasir yang luas dan tinggi di sepanjang pinggir Pantai? Sekuat apa tsunami itu hingga sampai di kota,hanya dalam hitungan kurang dari satu jam??  Semua pertanyaan itu berada dalam pikiranku. Aku bingung. Massa semakin banyak berduyun dari selatan ke utara.
” Piye le?? (bagaimana nak?) ” Tanya Ibuku

Aku menimbang-nimbang. Dokter belum ada. Belum ada perawatan disini. Adikku sudah banyak mengeluarkan darah. Harus segera mendapat perawatan. Entah benar atau penipuan, tsunami itu terlalu menakutkan untuk di hadapi.

“Kita pindah” Putusku

“Kemana??”

“Rumah Sakit lain. PKU atau Sardjito”. Kuangkat adikku,ku bopong dia. Ku bawa lari ke utara.

“Bagaimana caranya?”

Tanpa menjawab pertanyaan Ibu, aku terus berlari. Kulihat sebuah mobil bak terbuka ke arah utara juga. Aku kejar.

“Pak, tolong beri tumpangan. Ke rumah sakit.”

” Engga bisa mas. Sudah penuh” Ucap seorang laki-laki yang juga menumpang di sana.

“Cuma untuk anakku. Satu orang saja. Tolonglah” Sahut Ibuku

“Ga bisa Bu. Beneran sudah penuh” Timpalnya lagi

“Itu ada cukup buat adik saya Pak” Ucapku.

“Sudah penuh. Ini buat anak saya juga”.

“Ya Allah” Ucap pelan Ibu.

Aku lemah. Lariku sudah tidak kencang lagi. Perutku kosong. Sedari tadi malam belum kuisi,aku lupa tidak makan malam.Ya Allah,Ya Aziz,beri kekuatan. Tanganku tak kuat lagi. “Tapi aku ga boleh berhenti disini” pikirku. Aku harus terus berlari.

Kami sampai di jalan dekat rumah kami. Kami menuju Puskesmas di kampung ini. Jaraknya kurang lebih 100 meter.

“Pak tolong antar kami ke Puskesmas sana” ucap Ibu pada seorang pengendara motor.

“Saya mau jemput istri saya” ucap pengendara itu.

“Sebentar saja,hanya anak saya saja” Pinta Ibu

“Tidak bisa!!” bentak Pengendara itu. Dan melesat pergi. Menyatu dengan kerumunan yang semakin penuh.

Ya Allah Ya Aziz. Beri aku kekuatan. Aku sematkan tekad. AKU KUAT,Harus KUAT.

Entah bagaimana. Laparku hilang. Dan aku merasa sedikit kuat dari semula. Aku berlari lagi. Ke utara. Mencari perawatan untuk adikku.

Kulihat ada beberapa laki-laki di depan yang seperti menunggu seseorang dengan motor di depan mereka. Kuhampiri mereka dan bertanya.

“Bisa minta tolong antar kami ke puskesmas sana. Tidak jauh” pintaku

Beberapa dari mereka diam. Saling tatap. Seorang dari mereka langsung naik motor dan berkata “Ayo mas naik”

“Terima kasih Mas”

Kami berangkat. Membelah kerumunan yang padat. Memang tidak cepat,namun aku bersyukur karena tubuhku bisa istirahat. Perjalanan ke puskesmas yang hanya 100 meter terasa panjang. Kerumunan ini sulit di belah. Hanya sedikit jalan yang tersisa. Sesampainya di puskesmas pun kami dapati belum dibuka. Belum ada aktifitas disana. Penolong kami membawa kami terus ke utara. Ke PKU katanya. Aku nurut saja. Asal baik untuk adikku.

Adikku mulai terdiam. Suara erangan sepanjang jalan tadi mulai hilang. Ia berkata “Mas, aku ngantuk. Aku tidur ya”

Dia mulai lemah,ia akan pingsan.Ia harus sadar. Aku ajak ia bicara. Namun dia ga respon. Iseng aku sentuh lukanya. Ia mengaduh dan berteriak ” Sakit Maaaasss “. Namun itu berguna,ia mulai bersuara lagi. Meski hanya erangan dan mengaduh.

Kami sampai di alun² utara. Kami dapati jalanan padat dengan kendaraan besar. Kami tidak bisa lebih cepat. Namun ada seorang  pengendara motor yang melihat kami dengan kucuran darah yang tidak berhenti. Ia serta merta memainkan gas dan klakson terus menerus sambil berteriak “Ada korbaaan!!! Ada korban!! Minggir! minggir!” Pengendara itu melaju di depan kami. Ia memaksa minggir sebuah becak dengan menendangnya. Ia memberikan jalan itu kepada kami,hingga kami lancar sampai depan PKU Muhammadiyah.

“Terima kasih Mas, Jazaakallahu khayran”

“Amin”

Kedatangan saya di sambut seorang sukarelawan di sana. Ia memberi saya segelas air mineral. Saya menerimanya dan terus berlari masuk ke halaman PKU. Masya Allah.. Disana penuh dengan korban. Aku mencari tempat yang tersisa. “Dokter segera datang. Sabar ya” Ucapku pada adikku.

Alhamdulillah.

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2011 by in Kisah Nyata and tagged , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: