SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Tuhan Itu Ada

Suatu hari, beberapa tahun yang lalu. Saya didatangi seorang teman wanita yang sedang di timpa persoalan. Dalam keadaan setengah menahan tangis dia mengajak saya keluar rumah dan mencari tempat yang enak buat ngobrol. Sebenarnya acara saya lumayan padat waktu itu. Namun melihat keadaannya saat itu, saya ga tega. Dia teman yang baik, hanya saja sering di timpa masalah yang lumayan pelik. Sepertinya kali ini dia tak mampu lagi menahan gejolak dalam jiwanya. Dia ingin menangis.

Akhirnya saya ambil motor dan memboncengkannya menuju suatu tempat yang mungkin bisa membuat dia nyaman untuk menumpahkan unek²nya. Saya ajak dia ke Lembah UGM. Yang seeprtinya saat itu sedang sepi.

Sesampainya di sana, dia mencari tempat yang sejuk untuk duduk. Dan sambil menerawang dia mulai bercerita. Tidak seperti biasanya,yang mana harus saya yang bertanya.

“Aku ga kuat Mas” ucapnya pelan.

“Masalah ini terlalu menghimpitku. Sedangkan Mas tahu di keluargaku ga ada yang perduli. Semua lebih memilih berada di jalan yang aman. Aku sendirian Mas” Tangisnya meledak. Beban berat itu berubah menjadi butiran air mata. Mengalir dari ujung matanya dan melewati tulang pipinya yang semakin kentara. Dia lebih kurus. Dan aku baru menyadari hal itu. Wanita yang selalu tertawa dan enerjik, terkulai lemah bersandarkan pohon dengan air mata. Aku hanya diam. Menunggu

“Bukankah ini masalah keluarga. Bukankah mereka juga keluarga. Tapi kenapa semua seolah hanya aku Mas yang nanggung” Lanjutnya.

Aku diam. Menunggu saat yang tepat untuk berbicara. Dia terdiam. Matanya serius menatap ke tanah. Entah apa yang di pikirkannya.

“Aku mau mati saja” Ucapnya tiba²

“Istigfar dek, jangan begitu”

“Terus gimana mas??” matanya yang berpeluh air mata menatapku. Tangisnya membuatku rikuh. Mahasiswa yang lewat sejenak menatap kami. Mungkin mereka mengira kami pasangan yang sedang marahan. Andai mereka tahu.

“Shalatlah. Menangislah di hadapanNYA. Karena semua ujian ini datang dari DIA. Dan hanya kepada-NYA kita memohon kekuatan untuk mampu melalui ujian ini” Saran ku

“Emang Tuhan beneran ada Mas??”

“Astagfirullah dek.. Istigfar. Semua yang kamu dapat,udara yang kamu hirup,mata untuk melihat. Bukankah itu semua dari Allah Yang Maha Memiliki”

“Kalo emang Allah itu ada. Kenapa dia ga dateng kesini trus nyelesain masalahku Maaass?!”

Aku diam. Kulihat dia menutup wajahnya rapat². Air matanya semakin deras mengalir dan tangisnya semakin kencang. Dia yang kukenal tidak seperti ini. Ini bukan dirinya. Masalah yang datang bertubi² telah merubahnya. Sedangkan keluarganya seolah melepasnya begitu saja. Menghadapi problematika yang seharusnya dihadapi bersama.

Ku ambil tisu di tangannya. Ku tegakkan wajahnya dan dengan pelan ku seka air mata yang membasahi seluruh pipi dan matanya.

“Aku ingin cerita sesuatu. Mau dengar?” pintaku. Ku tatap matanya lekat. Kulihat dia mencoba untuk tersenyum. Aku ga ingin meng-kotbahinya sekarang. Kurasa ga tepat waktu. Lebih baik aku cerita sesuatu yang bisa membuat dia mengerti akan sesuatu.

“Di suatu hari,pas aku lagi di pijit sama Bapakku.” Kumulai cerita ku. “Kamu tau kan kalo Bapakku tukang pijit?”

“Iya, Mas” jawabnya

“Nah, pas lagi PW nih. Tau² pasien sebelah nanya sama tukang pijitnya. *Bapak percaya Tuhan itu ada??. Tukang pijit itu jawab *percaya pak,saya percaya kalo Tuhan itu ada”. Saya menghentikan cerita sejenak. Saya lihat dia mulai masuk dalam cerita.

“*Saya ga percaya Pak kalo Tuhan itu ada. Kata pasien sebelah” lanjutku. “Kalo benar Tuhan Ada, ga mungkin Dia membiarkan umatnya terlunta²,didera masalah, menderita, kelaparan, dan seabrek permasalahan dunia ini.”

“*Kalo menurut Bapak Tuhan itu tidak ada, Maka Dia tidak ada. Karena Tuhan akan seperti prasangka umatnya. Jawab tukang pijitnya”

“Wah seru nih. Pikirku. Seperti biasa, aku suka dengan membahas masalah.” Ucapku. Sudah mulai mengering air matanya. Bahkan nampak satu pak tisu yang dibelinya tadi sudah tersimpan dalam tas kecil ungu miliknya.

“Terus??” katanya

“Pasien itu berkata: Bagi saya, Tuhan itu ga ada. Ga pernah ada..”

“Aku mencoba masuk dalam pembicaraan.*Pak, Menurut saya ga begitu juga.”

“Maksud Mas? tanya pasien itu”

“Aku bilang*Sebenarnya yang ga ada di dunia ini cuma TUKANG PIJIT Pak”

“Mas ini mengada-ada. Bagaimana bisa?? Bukankah yang memijit Mas dan saya ini Tukang pijit??”

“Sungguh Pak. Kalo beneran Tukang pijit itu ada. Ga mungkin Ibu saya pegel², penjual angkring seberang jalan itu ngeluh keseleo, pundak kaku, trus pak Rt pinggangnya sakit. Kalo emang ada Tukang Pijit, mereka ga mungkin ngerasain itu semua.”

“Ooo..itu karena mereka semua TIDAK DATANG kesini dan minta dipijit Mas. Coba kalo mereka mau datang dan minta di pijit. Pasti bakalan di pijit sama Bapak² ini.”

“Naaahh. Itu jawabannya Pak. Seru ku”

“Maksud Mas??”

“Bukan karena ke Tiadaan Tuhan,Tuhan itu ada. Tapi karena mereka yang di rundung masalah-seperti Bapak sebutkan tadi-TIDAK DATANG menghadap Tuhan dan MEMINTA di bantu untuk menyelesaikan masalah mereka. Coba kalo mereka datang menghadap Tuhan dan meminta pertolonganNYA, niscaya Tuhan akan membantu bahkan menyelesaikan masalah itu.”

“Bapak pasien itu diam. Aku juga diam. Tukang pijitnya diam, semua diam deh”

“Mas nyindir aku yaaa??” ucapnya sambil nyubit. Saya meringis kesakitan. Cubitannya kecil dan lama. Sambil tersenyum dia berkata.

“Kayaknya aku pernah baca cerita itu deh Mas. Mas Wawan cuma copy paste kan??”

“Eh beneran ya… Beneran aku ganti latar ma tokoh ceritanya maksudku..hahahaha”

“Tuh kaaan..”

Senyumnya mengembang. Sudah ga nampak lagi butiran air mata, bulu matanya yang basah pun sudah kering.

“Iya, aku ngaku.. Aku ga pernah datang dan meminta bantuanNYA. Aku selalu merasa mampu menjalani hidup ini sendiri, menghadapi masalah ini sendiri. Sepertinya aku salah ya Mas.”

“Kita ga pernah bisa hidup sendiri. Dalam artian sebenarnya. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan.”

“Makasih Mas”

“Sama-sama. yuk pulang.”

***

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: