SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Terbangun malam-malam

 

 

 

 

“Ibuk,ibuk..” ucap Irul sambil menggoyang tubuh ibunya yang sedang terlelap. Ibunya dengan lesu membuka matanya. “Apa naak?” tanyanya. “mam mam” jawab singkat Irul, “mam mam buk,mam mam” katanya sambil menggenggam tangan ibunya. Ia berusaha menarik Ibunya agar segera bangun. Saya hanya tersenyum melihatnya. Jam segini Irul terbangun karena lapar. Ibunya segera bangun dan dengan di gandeng Irul menuju ke dapur. Kami selalu menyiapkan nasi yang cukup untuk jaga-jaga kejadian seperti ini.

Setelah menerima sepiring nasi untuknya,irul menuju perlak atau alas yang khusus untuk dia. Sambil berujar “duduk duduk” ia menduduki perlak itu. “hee mam mam,ayah ayah mam mam” ucapnya sambil menunjukan sendoknya kepada saya.  “iya,yang banyak ya” kata saya dibalas dengan anggukan oleh irul.

Belum juga habis makanannya,ia mengambil kertas berikut bolpoin di kardus mainannya. Ia menuju Ibunya yang kembali tertidur.

Bebek bebek” katanya sambil menyerahkan kertas dan bolpoin pada Ibunya yang masih terpejam. Ia goyangkan Ibunya. “Bebek bebek”. Mau tak mau ibunya harus melek lagi demi menuruti keinginan Irul. “Kenapa ga ayah sih nak?” tanyanya. “aaahhh!!! bebek bebek” teriak Irul sambil menyerahkan kertas dan bolpoinnya. Kalo sudah begitu,Irul tidak mau siapapun menggantikan keinginannya. Kal0 ia ingin Ibunya yang melakukannya,maka harus Ibunya yang bertindak. sambil menerima kertas dan bolpoin,Ibu tengkurap dan menggambar bebek yang diminta. “Cecak cecak” kata Irul. Dengan sigap ibunya menggambar Cicak.  “Ajah ajah” pinta Irul. Ibunnya pun menggambar Gajah. “Bis,bis” pinta Irul lagi.  Ibu menggambar bis. “Bil bil” kali ini Irul ingin Ibu mengambar mobil. “Aduh nak,Ibu ga bisa menggambar mobil” kata Ibunya. “Aaaahhh!!” jawab Irul.

“Irul !! Gimana Irul bisa tambah pinter kalo ga belajar sendiri..” ucap Ibunya agak keras.

Irul terdiam,ia kemudian mengambil kertas dan bolpoinnya lalu tengkurap..sejurus kemudian ia sudah memenuhi kertas itu dengan coretan-coretan. Ibunya takjub dengan keadaan itu. “Irul sudah mengerti kalimat yang panjang rupanya” ucapnya dalam hati.

Karena kertas yang dia coret sudah penuh dengan coretan buah karyanya,Irulpun segera berdiri dan mencari kertas lagi. Kali ini yang ditemukannya adalah koran kemaren. Ia ambil koran itu dan menulisnya dengan posisi  tengkurap juga.

Tiba-tiba Irul berdiri.Ia berjalan menuju Ibunya yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan. “Buk bobok” ucapnya. “Ngantuk yaa” goda Ibunya. “Tuk,bobok”. Irulpun rebah di kasur dan tidak berapa lama sudah kembali ke alam mimpi.

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 27, 2011 by in Cerita and tagged , , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: