SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Susahkah mendengar nasihat?

Ada hal yang menggelitik sewaktu shalat Idul Fitri kemaren. Ketika Khatib naik mimbar dan membawakan khotbahnya,beberapa orang didepan saya sibuk ngobrol entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka. Di sebelah kiri saya, sibuk membaca alas koran yang dia bawa. Disebelah kiri bagian depan terlalu sibuk dengan HPnya. Dibelakang saya bercanda sambil memakan keripik yang sengaja di bawa dari rumah dan dimasukkan dalam tas,yang membuat saya berpikir “mereka mau shalat apa mau piknik sih”. Sebelah kanan bagian depan malah tidur dalam keadaan duduk.

Saya hanya mampu berucap lirih “Astagfirullah”. Saat itu adalah hari pertama bulan Ramadhan meninggalkan kita,namun sepertinya telinga mereka telah tertutup rapat dari nasihat yang pastinya membangun. Mereka telah ditutup telinganya oleh setan dengan keripik,kantuk,daya tarik HP,serta obrolan yang belum tentu penting dan krusial. Dan yang lebih menusuk di hati adalah ketika saya menoleh ke belakang sebelah kiri,saya dapati seorang Bapak merokok sambil memainkan asapnya. Dia mendongak ke atas dan meniup asapnya hingga membentuk bulatan-bulatan. Sungguh saya menangkap kesan yang begitu cuek,acuh dan menggampangkan.

Inikah potret bangsa Indonesia yang telah enggan menerima nasihat? Inikah potret bangsa yang ketika di nasihati selalu membalikkan dengan kalimat “tergantung diri masing-masing”. Saya pernah mendapati seseorang berkata “Benahi dulu dirimu sebelum menasihati orang lain” kepada orang yang menasihatinya. Apakah seorang yang dikenal mabuk yang lantas berkata “Kamu jangan mabuk,nanti malah jadi kayak aku” adalah salah??

Seorang Ustadz pernah berkata “Dengarkan nasihatnya (yang baik),meskipun dia pernah bersalah” kepada saya. Hal itu yang ingin saya sampaikan disini.

Meski seseorang itu mungkin pernah bersalah,melakukan kesalahan,atau lebih muda dari kita namun jika nasihat itu bagus dan membangun maka tidaklah salah jika kita mendengarkan dan mengamalkannya. Nasihat tidak harus selalu dari yang tua ke yang muda,tidak juga harus dari yang suci ke yang kotor. Bisa saja nasihat datang dari seseorang yang selalu bergumul dengan lumpur dunia,bisa datang juga dari seseorang yang baru mengenal agama. Yang jelas,dari manapun datangnya nasihat atau ilmu tersebut kita wajib membuka telinga kita dan menyiapkan ruang dan tempat di hati kita.

Senanglah menerima nasihat karena semua itu akan membangun diri kita dan membawa ke derajat yang lebih tinggi.

Advertisements

2 comments on “Susahkah mendengar nasihat?

  1. BakulatZ
    September 6, 2011

    Tulisan yang bagus,
    makasih nasehatnya,,,
    oiya,,,Link Anda sudah saya pasang Sob,
    tolong pasang link aku yaa,,,

    Like

    • satusatuen
      September 6, 2011

      Terima kasih pujiannya. Segera!!! ntar saya kabari Brother

      Like

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 31, 2011 by in Agama and tagged , , , , , , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: