SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Seri Kehidupan #1 : Kelahiran

Sore itu langit begitu cerah,hanya ada beberapa gumpal awan. Cahaya mentari sudah tidak begitu menyengat dan tumbuhan di halaman sudah tersiram air semua. Sepertinya bisa segera mandi. Aku melangkah ke kamar mandi yang tidak seberapa jauh dari tempatku berdiri. Kulihat Fitri, Istriku telah selesai menyegarkan dirinya dan sedang merapikan rambut yang tergerai hingga ke perut yang membuncit. Ia tengah hamil tua dan sedang menunggu kelahiran bayi kami. Aku begitu antusias dengan itu semua. Semua sudah tersiapkan dengan baik. Motor yang akan kami gunakan sebagai sarana utama menuju tempat persalinan sudah “sehat”,dan yang utama kami telah menentukan tempat persalinannya nanti,karena jika sedari awal belum di tentukan maka di khawatirkan akan membuat panik saat tiba waktu persalinan. Ditambah lagi jika kita telah menentukan rumah sakit mana yang akan dijadikan tempat bersalin,kita bisa mencari informasi mengenai biaya yang akan dikeluarkan.

“Ayah dah selesai mandi?” Istriku memanggil. “Udah bu. Da pa??” jawabku

“Sini cepet,ini air apa ya??”. Aku segera kearah kamar kami dimana Istriku sedang memperhatikan sepercik air di lantai. Segera kuamati air itu. Tampak tidak ada darah disana dan lebih mirip air biasa. “Ini dari mana asalnya??” Tanyaku

“Dari sini (sambil nunjuk kemaluannya). Keluar begitu aja,aku ga ngerasainnya” jawabnya. “Yaudah. Ayo ke BKIA”

BKIA adalah tempat persalinan yang kami rencanakan. Singkatan dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak. Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami,sehingga mudah untuk mengejar waktu.

Kami tidak menyiapkan apa-apa,karena yang utama adalah segera menuju tempat persalinan. Istri sudah duduk di belakang,motor pun melaju dengan kecepatan sedang. Lebih mengutamakan keselamatan janin daripada mengejar waktu. Karena dengan motor resiko jatuh lebih banyak. Ditengah jalan,air itu keluar lagi namun kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Hingga sampai di halaman depan BKIA pun,air itu masih keluar. Perawat jaga langsung menolong kami. Dibawanya istriku kedalam. “Mas pulang saja,ambil baju ganti dan beberapa jarik (*semacam kain lebar dan panjang guna menutup tubuh),nanti kesini lagi.”

Aku kembali,pulang kerumah dan mengambil segala kebutuhan yang memang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya. Baju ganti,handuk,jarik,dan uang tentu saja. Ibu (calon nenek) berkata “Aku ikut. Bapak di rumah saja,jaga rumah”. “Ya. Ibu nanti bisa bantu mental Fitri ” sahut Bapak (calon kakek). “Ibu dah mandi belum?” ucapku sambil menempatkan tas di motor. “Ga usah mandi”..”what,ntar kalo anakku ga jadi lahir gara-gara simbahnya belum mandi,gimana?” aku menyahut. “entar ditarik,ajak mandi bareng”..

**

Kami sudah berada di BKIA. Istri merintih kesakitan,sudah buka 2 katanya. Dan oleh bidan diminta tidur miring,belum ditambah kalo ngerasa kayak mau kentut ato semacamnya,ga boleh ngeden. “Maas,sakiiit” Rintihnya. “Ditahaaann..Dzikir aja” saranku. Aku cuma bisa elus-elus perutnya sambil menenangkan diri. Aku sedikit nervous juga.

Kondisi sakit dan lemah seperti itu berlangsung cukup lama. Dari sekitar pukul 6 sore hingga pukul 10.00 malam. Kisaran pukul 10.00 itu,istri sudah merasa mau ngeden (mengejan). Segera kami beritahu bidan jaga. Mereka mempersilahkan pasien untuk memasuki ruang bersalin. Istri dalam kondisi yang susah berdiri diminta untuk berjalan menuju ruang bersalin. Mungkin agar jalan bayi bisa lebih terbuka atau gimana ga tau.

Begitu memasuki ruang persalinan,aku ditawari antara masuk menemani atau tidak. Berhubung ga kuat ngelihat darah,aku memilih diluar dan sholat. Suara erangan terdengar jelas dari mushola yang disediakan BKIA. Karena memang terletak tidak jauh dari ruang bersalin. Dengan jelas terdengar perintah bidan untuk mengejan atau untuk tidak mengejan,menarik nafas atau menahannya.

Aku nervous. Ga tahu harus ngapain. Cuma mondar-mandir antara mushola dan pintu ruang bersalin. Berkali-kali ambil wudhu dan sholat 2 rakaat. Berdoa dan terus berdoa. Memohon kelancaran dan kekuatan. Shalat lagi kemudian dzikir. Ambil wudhu lagi dan shalat lagi. Terus seperti itu hingga terdengar suara bayi yang  melengking memenuhi ruangan. “Alhamdulillah,Subhanallah” aku ambil wudhu lagi dan shalat lagi, aku bersyukur. Aku hampiri pintu ruang bersalin. Aku menunggu disana,hingga diperbolehkan masuk. Ibuku keluar sambil menangis. Ibu merasa kasian dengan Istriku yang harus berkali-kali digunting demi melebarkan jalan lahir. Beliau melihat kepayahan yang sangat di mata dan fisik Istriku.

“Jangan masuk dulu” Ucap bidan yang sudah melihat aku di depan pintu. “Baru dijahit ” ucap bidan yang satu. “Bukan di jahit lagi nih namanya,di obras” kata bidan yang sedang menjahit Istriku. Setelah beberapa menit,aku diperbolehkan masuk juga. Kulihat Istriku tersenyum di tengah rasa sakitnya. Ku pegang tangannya,kucium dan berkata “Alhamdulillah,terima kasih sudah berjuang”. Dia hanya tersenyum. Ku lihat si kecil sedang di basuh oleh bidan dan di rebahkan di bawah lampu agar terasa hangat. Anak lelakiku telah lahir. Nama yang sudah kami persiapkan beberapa bulan yang lalu,segera kami berikan padanya. Muhammad Khoirul Dzikri. Muhammad adalah nama Nabinya dan Khoirul Dzikri adalah pesan dari kami orang tuanya agar dia berdzikir dengan sebaik-baik dzikir (sebaik-baik dzikir adalah membaca Al Qur’an).

Setelah melihat betapa sulit,lemah dan kepayahan yang sangat demi melahirkan bayi, terbayang dahulu ketika aku dilahirkan. Betapa kuat sosok Ibu. Betapa layaknya “surga dibawah kaki Ibu”. Dan betapa bodohnya mereka yang membangkang kepada Ibunya,betapa buruknya mereka yang menghina dan menyakiti Ibunya. Seandainya mereka tahu,betapa sakit dan perihnya proses melahirkan itu. Mereka akan menyesal telah menyakiti bidadari yang rela merasakan itu semua demi melahirkannya.

Semoga sobat blogger memetik hikmah cerita nyata ini.

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 3, 2011 by in Motivasi.

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: