SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Tips untuk Ayah Bunda

“Arrrhhggg” Teriak Irul ketika di ingatkan agar tidak membanting mainannya. Akhir-akhir ini hal tersebut menjadi kebiasan buruknya. Tanpa bermaksud menghakimi, saya berpikir bahwa hal tersebut pasti didapat dari kebiasaan anak orang lain. Dan ketika saya memperhatikan sikap anak-anak yang menjadi teman sepermainannya, ternyata benar. Gaya ketika Irul menjerit didepan kami dan anak itu sama. Bahkan ketika ia jalan-jalan dengan kami, Irul mendongak tinggi menatap langit sambil berkata “Kayak mas Fulan” *nama disamarkan.

“Irul, jangan teriak seperti itu” tegur kami. “Arrrggghh” Teriaknya lagi. Ibunya marah. Dengan muka memerah, ia mengarahkan jarinya bermaksud untuk menyentil bibir Irul. Memang tidak dilakukan namun Irul terlanjur menangis. Irul merajuk ke saya.

“Teriak seperti itu tidak baik. Jangan jerit-jerit seperti kakak-kakak yang maen sama Irul” nasehatku sambil menggendongnya. Anak 2 tahun ini masih dengan tangisnya. Saya langsung mencari cara untuk membuat anak terdiam dari tangis dengan cara yang baik. Saya harus berusaha mengalihkan perhatiannya, karena energinya akan habis sia-sia dengan menangis. Saya mencoba mengingat apa yang menjadi kesukaannya. Kereta api, Stasiun Lempuyangan, pagar pengaman lintasan dengan bunyinya (Irul menyebutnya dengan Ti Tu Ti Tu), hewan (cicak), truk molen (concrete mix), bis, kereta mini, menempelkan telapak tangan di kaca ketika hujan, permen (xonce vitamin c), cita-citanya jadi kepala stasiun, dan lain sebagainya. Saya berusaha merangkai semua itu menjadi sebuah cerita.

Contoh: “Irul tau ga, mas Cicak yang merayap di dinding itu pengen jadi Kepala Stasiun, mas Cicak juga engga pernah teriak-teriak lho. Soalnya kalo teriak-teriak, nanti suaranya habis. Kalo suaranya habis ntar ga bisa panggil penumpang Kereta Api. Ingat ngga, pas kereta api lewat di Stasiun Lempuyangan? Ti tu ti tu-nya turun. Ada bis, molen,mobil jip berhenti semua. Iya kan?”

Saya berhenti cerita sejenak, diakhiri dengan pertanyaan. Tunggu reaksinya. Irul mengangguk. Pertanda ia sudah terkoneksi dengan baik. Tangisnya sudah reda(?) ketika mendengar kata Kereta Api. Jangan langsung diberi nasehat. Saya memilih untuk melanjutkan cerita untuk menghibur hatinya yang pasti masih bergejolak.

“Lalu Keretanya lewat. Wuuuusssss” cerita saya sambil memeragakannya dengan tangan. “Keretanya yang lewat ada berapa?” tanya saya. “empat” jawab Irul. “Warnanya apa?” Lanjut saya. “Unin” Irul menjawab kembali. Empat dan Kuning atau Unin versi Irul *2 tahun adalah jawaban Irul ketika di tanya tentang jumlah dan warna. Terkadang memang saya beri tahu warna sebenarnya, namun kali ini saya bermaksud melanjutkannya dengan memberi Vitamin C untuk mengalihkan perhatiannya (lagi) dengan dialog panjang.

“Ayah punya permen lho. Warnanya kuning”.
“Iyu, iyu mau mamin Ayah”. Mamin adalah permen dalam kamus Irul.
“Ayah ambilkan sebentar ya” ucap saya sambil tetap menggendongnya. Saya menggunakan istilah Permen agar ketika ia meminta permen dapat kami berikan Vit.C sebagai gantinya. Saya ambilkan Xonce satu tablet. Saya bagi menjadi empat (4) bagian. Saya berikan satu-satu hingga habis. Ketika sudah habis, saya selalu berkata “Sudah habis ya” sambil menunjukkan bungkusnya yang kosong. Irul mengangguk.
“Tolong bungkusnya di buang ke tempat sampah ya” pintaku sambil menyerahkan bungkus itu kepadanya. Ia menerima dan bergegas menuju tempat sampah yang tersedia di dapur. Setelah dialog yang panjang dan perintah sederhana tersebut dilakukan, biasanya anak sudah tenang. Bisa langsung bercanda atau main lagi.
“Pinter. Buang sampah ke tempat sam..??” ucap saya sengaja saya potong untuk menunggu Irul melanjutkannya.
“paaah” lanjut Irul.

Jika diperkirakan auranya(?) sudah normal kembali. Aura?? *saya bingung harus tulis istilah apa. Beri nasehat perihal penyebab orang tuanya marah.

“Ayah Ibu sayang Irul. Tadi Ibu marah karena Irul teriak-teriak lho, itu engga baik. Yuk sekarang minta maaf trus dicium yuk”

“Ndak mau” ucap Irul karena masih melihat wajah Ibunya masam. Sebagai orang tua, harus bermuka ceria ketika melihat gelagat anak ingin berbaikan. Saya memberi kode untuk Ibunya. Dan sepertinya ia mengerti. Muka masamnya ia simpan kembali. Ibu tersenyum dan Irul berani untuk mendekati Ibunya. Sesuai ajakan saya tadi, ia mencium Ibunya. Jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, Irul belum pernah mogok apapun atau ngambek lama-lama. Karena dengan cara seperti itu, perhatiannya teralihkan.

Cara ini mungkin akan berbeda hasil kepada orang lain. Karena memang kebiasaan kami mungkin berbeda. Irul mau mendengarkan kata-kata kami karena kami mau mendengar kata-kata Irul. Ini sedikit Tips untuk Ayah Bunda

  • Sebagai Orang tua, wajib mendengarkan anak jika ingin kata-kata kita di dengar oleh anak. Semua nasihat saran perintah akan terserap dengan baik jika orang tua juga mendengar kata-kata anak sedini mungkin. Beri ruang yang cukup untuk keluh kesahnya, untuk cerita-ceritanya sedini mungkin. Anak hanya copy paste saya sangat percaya diri menggunakan istilah itu. 
  • Sebagai orang tua, wajib memenuhi janji yang dibuat sendiri meski hanya kepada anak umur 2 th 3 bln seperti Irul. Anak hanya copy paste #2, jika orang tua ingkar, jangan harap anak menepati janji. Orang tua memukul, anak akan mencontohnya. Coba lihat yang satu ini
  • Sebagai orang tua, wajib mengetahui kebiasaan anak dan kegemarannya karena dengan mengetahui kegemaran dan kebiasaannya, ibarat mengetahui petanya, anda tinggal jalan aja. Ibarat mencari keyword yang tepat untuk blog, cari juga keyword yang pas untuk anak ketika ia merajuk. Bisa lewat pasangan, bisa lewat kebiasaan, bisa lewat aktifitas, bisa lewat track record. Irul pernah menggunakan “dong”, “yuk”, “tho”, “je” (*je adalah salah satu logat di Jogja, khususnya di daerah Bantul.) Dengan istilah itu, saya berusaha memasuki ‘daerahnya’ dan ‘mengakrabkan diri’. 
  • Sebagai orang tua, wajib untuk mengalahkan ego dan amarah diri sendiri karena ketika kita marah, ia akan bertanya dalam hati “Apa salahku? Aku kan cuma menyampaikan perasaanku saja?”. Anak, apalagi yang masih balita, belum mengerti problematika kehidupan yang mana anda sedang bergulat di dalamnya. Mereka tidak tahu ketika anda pulang kerja sesungguhnya sedang merasa sangat capek dan ingin segera istirahat, namun dengan polosnya anak berkata “Ayah, yuk liat Ta Api di staciun empuayang”. Dalam hati mungkin ingin berkata “What!!! Ayah capeeek nak, pengen tidur!! Masa harus nganter ke Stasiun Lempuyangan buat nonton Kereta Api?!! ARRGGHHH”……
    Tapi, dia tidak mengerti. Jangan salahkan ketidak mengertiannya yang polos itu.
    Lalu bagaimana jika ia membanting HP hingga tercerai berai. Masih tidak boleh marah?
    Berusahalah untuk tidak marah. Ia tidak tahu jika HP mahal, jika HP penting, jika HP bla bla bla. Yang ia tahu adalah Ia ingin mengungkapkan perasaannya. Salahkan diri anda yang tahu bahwa HP bukan mainan anak balita, namun tidak segera menggantinya dengan mainan lain. Jika sekiranya itu penting atau sesuatu yang berbahaya, segera ganti dengan mainan lain yang tidak berbahaya.
  • Sebagai orang tua, beri contoh yang baik, ajak yang baik. Untuk yang satu ini saya rasa tidak perlu di jabarkan. Karena setiap orang tua akan memberi contoh yang baik dan mengajak yang baik.

Sekiranya hanya itu yang ingin saya share disini, silahkan untuk di bagi ke rekan atau saudara jika berkenan. Jadikan setiap moment bersama keluarga menjadi indah karena semua itu adalah GA ‘GOLDEN MOMENT WITH YOUR CHILD’

Photobucket

Critanya ngambek niiiiih?

Photobucket

"Iyu imut ayah jeyek" "Apaaaa?? ayah cium kamu!!"

****

Tulisan ini di-share dalam rangka mengikuti “GA GOLDEN MOMENT WITH TOUR CHILD” yang diadakan oleh penerbit byPASS http://www.penerbitbypass.com.

GA ‘GOLDEN MOMENT WITH YOUR CHILD’

Advertisements

7 comments on “Tips untuk Ayah Bunda

  1. sulunglahitani
    March 16, 2012

    punya anak ituu.. susah2 gampang 😀

    ****
    gampangnya gimana hayooo?

    Like

    • Red
      March 20, 2012

      aku gak bisa komen lha wong belon punya 😆

      ****
      Haaaahahahahaha.. lha ni koment

      Like

  2. walankergea
    March 17, 2012

    siiip gan….mantab!

    ****
    makasih Gan

    Like

  3. susindra
    March 17, 2012

    Benar sekali. Beberapa lingkungan anak berpengaruh buruk dan harus segera ditangani dengan bijak. Sesuai dengan usia anak. Ini pengaruh yang tak terhindarkan namun bisa diminimalisir dan kemudian dihapus.
    Senang sekali mengenal keluarga bijak mengasuh anak. Semoga sukses kontesnya ya… semoga saya bisa ikut juga. 😀

    ***
    Ayo Bu, ikutan

    Like

  4. Maya
    March 17, 2012

    imuuutt 😀
    unyu unyu~

    ***
    Emang ayahnya Irul Imut

    Like

  5. pelancongnekad
    March 18, 2012

    walopun blom jadi Ayah, tapi tipsnya mantap bener..
    dapat ilmu deh yang bermanfaat,.
    😉

    ****
    Sip

    Like

  6. Pingback: Info Kehamilan : Tips Menjaga Kehamilan Pada Usia Dini | SatusatuenMagz

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: