SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Tentang Janji

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu didatangi anaknya yang
hendak meminjam uang. Lalu ia berkata kepadanya ”Nak, aku tidak punya uang.” Lantas anaknya mengusulkan agar ayahnya pinjamkan dari Baitul Maal (Simpanan Kekayaan Negara). Maka Umar-pun menulis memo kepada pemegang kunci Biatul Maal yang isinya: ”Wahai bendahara, tolong keluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk aku pinjamkan ke anakku. Nanti biar aku cicil dengan potong gajiku tiga bulan ke depan.”

Maka memo tersebut dibawa oleh anaknya dan diserahkan kepada bendahara. Tidak berapa lama iapun kembali menemui ayahnya dengan wajah murung. ”Ayah, aku tidak menerima apa-apa dari bendahara kecuali secarik kertas ini untuk disampaikan kepadamu.”

Maka Umar menyuruh anaknya membacakan isi memo balasan itu. Isinya ”Wahai Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, bagiku sangatlah mudah untuk mengeluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk engkau pinjam. Namun aku minta syarat terlebih dahulu darimu. Aku minta agar engkau memberi jaminan kepadaku bahwa tiga bulan ke depan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab masih hidup di dunia untuk melunasi hutang tersebut.” Maka Umar langsung beristighfar dan menyuruh anaknya pulang…!

***

Bagi yang mengikuti YUSUF MANSUR NETWORK di Facebook mungkin akan mengernyitkan dahi dan berkata “ah, copy paste niiiih” atau mungkin mengatakan “repost gan” dan melemparkan bata merah seperti di Forum. 🙂

Maaf, atas copy pastenya. Tapi bukan karena tidak ada inspirasi lantas saya comot saja dan menjadikannya artikel disini. Melainkan ingin mengajak merenungi satu hal.

Janji

Ya ! Tentang janji. Seberapa banyak janji yang kita buat selama hidup? Satu? dua? lima belas? tigapuluh tiga?. Aaah pasti setiap kita sudah lupa akan jumlah janji yang kita buat selama hidupnya. Entah itu janji pertemuan,janji membawakan oleh-oleh, janji pencapaian tertentu, janji ini itu sampai janji hutang.

Saya teringat janji yang di ucapkan calon Dewan yang akan dipilih, teringat janji calon Presiden ketika akan Pemilu, janji orang tua jika berhasil mencapai nilai tertentu, hingga janji pada mantan pacar istri membelikan pohon mawar putih yang ternyata saya kelupaan.
Untuk janji dari Orang tua, saya ikhlaskan saja. Karena keadaan perekonomian saat itu. Untuk janji kepada Istri, Insya allah segera di penuhi. Dan untuk janji para Dewan serta Presiden yang sudah terpilih, silahkan mereka jawab sendiri, apakah Ingat atau tidak janji yang mereka ucapkan dan akan dipenuhi atau tidak janji tersebut. Yang terpenting lagi adalah Masih ada umur atau tidak sampai mereka menunaikan Janji yang telah terucap itu.

Sudah menjadi kebiasaan, ketika berencana melakukan sesuatu tidak mengucapkan kata “INSYA ALLAH#bagi muslim namun langsung mengatakan “Iya, Janji” atau tidak mengucapkan kata “Janji” secara langsung. “Kalau berhasil mendapatkan nilai 10, akan Ayah ajak ke Disneyland”. Dan nyatanya, sang ayah sibuk dengan meeting di kantor setiap kali si anak menagih janji yang terlanjur terucap.

Siapa yang bisa menjamin akan tetap hidup sampai janji terpenuhi? Ucapkan INSYA ALLAH, karena itu lebih baik bagimu.

 

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2012 by in Cerita and tagged , , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: