SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Hingga Akhir Waktu

Lelaki itu berlalu, tanpa menghiraukan apapun lagi. Baginya sudah tidak ada yang perlu diperbincangkan dan apa yang telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah sebuah penghianatan yang sangat melukai hati. Tangannya mengepal keras, seolah hendak menghancurkan apapun yang ada dihadapannya. Dia terus menjauh sambil bergumam entah apa yang ia ucapkan.

“Tolong berhenti Li, kita bicara” kejar sosok lelaki dibelakangnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang merubah sahabatnya tersebut. Yang ia tahu, Li tiba-tiba berada didekatnya. Menghampirinya dengan wajah menahan amarah. Kemudian secepat kilat Li mencengkeram kerahnya. “Penghianat!!” teriak Li. Li mendorongnya sekuat tenaga. Hampir ia jatuh terjerembab. Beruntung gadis dibelakangnya dengan sigap menahannya berdiri. Melihat hal itu, Li semakin geram. “Kau tahu sakitnya ditikam dari belakang, Gal!!”.  Nafasnya memburu, giginya gemeretak, terlihat ia berusaha sekuat tenaga menahan emosi. Namun Li berbalik dan segera pergi.

“Apa salahku Li” ucap Gal setelah berhasil menyusul dibelakangnya. “Kau marah tanpa alasan yang jelas. Menuduhku penghianat. Sebenarnya apa yang terjadi?”. Li hanya diam saja. Kakinya terus berjalan seolah tidak mendengar apapun. Gal tidak menyerah, ia ikuti langkah kaki sahabatnya itu. Demikian juga gadis yang menolongnya tadi, tetap dibelakang Gal dengan wajah cemas. “Li, berhenti” seru Gal memegang bahu Li.

“Jangan sentuh aku!!” maki Li sambil membalikkan badan. Tinjunya melayang dan tepat mengenai pelipis Gal. Ia tersungkur. Pelipisnya berdarah. Belum reda rasa kejut yang ia rasakan, tampak Li hendak melayangkan pukulan kedua. “Hentikan Li!!” teriak gadis tadi sambil mendorong tubuh Li. “Hentikan kelakuan bocahmu itu!” bentaknya. Perasaan Li remuk redam, ia kecewa. Ternyata benar dugaannya, gadis ini lebih membela Gal, sahabat yang telah menghianatinya. “Apa maumu sebenarnya Li?”

“Bukan urusanmu Wie!” bentaknya. “Diam disitu dan jangan ikut campur!”. Li kemudian menghampiri Gal yang berusaha berdiri. Namun Wie segera bergegas menghadang dan mendorong tubuh Li yang lebih besar. “Tapi aku juga perlu tahu masalahnya apa”. “Bukan urusanmu!!” Li balas mendorong hingga Wie terjungkal. Gal mencoba menolong namun Wie sudah mencium tanah. “Begini perlakuanmu terhadap wanita?!” ucap Gal.  “Tidak salah jika dia meninggalkanmu.”

“Brengseek!!”. Li mengarahkan tinjunya ke wajah Gal.

“Sebenarnya apa yang terjadi Li?” tanyaku beberapa hari kemudian. Ketika kami berdua menghabiskan waktu di sekitaran Malioboro. Jam pelajaran yang kosong membuat kami memutuskan untuk bolos dan menikmati suasana. Aku tahu hatinya masih bergejolak namun jika hal ini terlalu lama dibiarkan, aku khawatir akan makin membesar hingga tidak bisa diselamatkan lagi. Persahabatan yang lama terjalin akan rusak dan hancur seketika. Setidaknya untuk hubungan mereka berdua.

“Kamu tahu sendiri siapa Wie itu kan?” tanya Li yang kujawab dengan anggukkan. “Meski menurutku kami belum berpisah, namun dia selalu menganggap hubungan kami sudah usai.” ucapnya sambil menatap rimbunnya daun beringin. “Ketika aku berusaha menyemai cinta kembali, aku mendapati ia tengah didekati laki-laki lain”. Li terdiam sejenak. Ia menarik nafas yang panjang. Berusaha melepas semua beban yang selama ini menggelayut dan mengganggu hatinya. “Saat itu juga, Gal bertanya-tanya mengenai Wie. Semua tentang Wie. Ia menyemangatiku. Namun akhirnya aku tahu, siapa laki-laki yang mendekati dan membuat Wie semakin jauh”

“Kau tahu rasanya? Sakit sekali. Ketika menyadari orang yang menikammu adalah temanmu sendiri” ucap Li. Kami beradu mata, terlihat jelas luka hati yang tergambar di dalamnya. Jelas sekali ia menahan diri agar tidak menangis. Sebagai lelaki, mungkin ia mengharamkan diri untuk tidak melakukannya. “Kamu sayang Wie?” tanyaku.
“Itu pertanyaan bodoh pertama yang aku dengar hari ini”
“Kamu engga ingin jauh dari dia?”
“Itu yang kedua”
“Ternyata aku pinter. Bisa nebak orang.”
“Itu yang ketiga”. Hahahaha..kami tertawa bersama. Harga dirinya terselamatkan, air mata yang berusaha ia bendung tak lagi terlihat. Wajahnya yang muram tak lagi ada. Setidaknya untuk detik ini.

Aku lantas membandingkan pengakuan Gal dalam hati. Ia tidak merasa menghianati Li karena merebut Wie darinya. Karena kata Gal seperti diceritakan Wie, telah tidak ingin lagi menjalin cerita dengan Li. Kebiasaan buruk dan juga banyaknya halangan dalam percintaan mereka membuat Wie memupus harapan Li. Meski Wie tahu, besarnya keinginan Li untuk kembali namun Wie telah mantab untuk mengakhirinya. Saat itulah Gal, yang telah memendam rasa sejak pertemuan pertama, berusaha untuk mendekati dan menjadikan Wie tambatan hatinya. Namun belum lagi ia menyemai cinta, insiden itu terjadi.

Sulit sekali rasanya aku harus menempatkan diri. Mereka semua sahabatku dan aku tidak ingin berada dalam posisi sulit ini. Namun jika dibiarkan, sahabat macam apa yang akan membiarkan kedua sahabatnya berjibaku. “Sudahlah” ucap Li menepuk pundakku. “Aku tahu yang kamu pikirkan.” lanjutnya sambil melirikku.
“Oya?”
“Kamu ingin mendekatkan kami berdua kan?”
“Sok tau, emang aku terlihat peduli?”
“Itu buktinya. Ga usah menyembunyikannya. Aku engga memutus persahabatanku dengan kalian semua. Namun ku akui, aku benci dengan Gal.”

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, aku mencoba mendekatkan mereka lagi. Setiap ada acara, aku selalu mencoba mengajak mereka berdua. Namun Li tampaknya menutup diri untuk Gal sepenuhnya. Setiap ada Gal, Li tidak pernah mau untuk menampakkan batang hidungnnya. Begitu juga sebaliknya, Li selalu ada ketika Gal berhalangan hadir. Sungguh pusing dibuatnya. Ingin rasanya menyemai cinta persahabatan ini lagi, namun kerasnya ego membuat hal itu seperti bertemu jalan buntu.

Tahun berganti, semua momen yang bisa digunakan untuk mendekatkan mereka tidak berjalan dengan baik. Harapan untuk meraihnya tinggalah harapan, Gal tiada.

-Fin-

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

kontes menyemai cinta

menyemai cinta

Advertisements

5 comments on “Hingga Akhir Waktu

  1. niken kusumowardhani
    June 6, 2013

    Terima kasih partisipasinya, sudah tercatat sebagai peserta.

    Like

  2. Judulnya kayak lirik lagu ungu band ya 😀
    *Jadi inget keinginan saya sama dia 🙂

    Like

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 6, 2013 by in GA/Kontes and tagged , , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: