SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Katanya Ga Boleh? Beneran??

Seorang kawan dulu pernah bertanya mengenai keabsahan panitia kurban mendapat jatah daging kurban. Menurut dia, seorang panitia sebaiknya tidak mendapat apa-apa. Karena momen idul qurban adalah momen dimana sebuah keikhlasan diuji. Seperti halnya, keikhlasan Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail.  Itu kata teman saya.

Well, memang ada unsur “keikhlasan” di hari raya kurban ini. Ada juga unsur “Pesta” didalamnya. Memakan hasil qurban yang sama dengan masyarakat sekitar. Ada yang dijadikan sate, gule, opor, rendang dan lain sebagainya sesuai kesukaan. Sebagian dimakan sendiri, sebagian yang lain biasanya dibagikan, karena mungkin ada yang berminat menu lain. Bisa juga dengan modus bertandang ke tetangga untuk icip-icip dan mendadak menjadi kritikus masakan. Kemudian dengan mimik wajah meyakinkan mengucap “Maknyuuuss”. Bukankah hal ini bisa disebut pesta?

Anggaplah kita menggunakan pendapat “panitia kurban tidak boleh mendapat jatah daging kurban“.

Bisa dibayangkan betapa tidak adilnya hal tersebut. Disaat orang lain mendapat jatah daging, dia dan keluarganya tidak mendapatkan sedikitpun karena berperan sebagai Panitia Kurban.

Baiklah. Anggap saja orang satu kampung tersebut sangat baik hati dengan membagi hasil masakannya kepada panitia tersebut. Masalahnya berapa banyak yang menjadi panitia??
Bagaimana jika, hampir semua warga sekitar masjid menjadi panitia kurban?? Artinya akan ada banyak orang sekitar masjid malah justru tidak mendapat bagian daging kurban. Ada yang bisa bagi-bagi masakan jika bahannya saja tidak tersedia??

Benar ada unsur keikhlasan disini. Anggaplah seluruh warga yang menjadi panitia sangat ikhlas tidak mendapat bagian daging kurban? Tahun depan ada yang minat jadi panitia engga? Tahun depanya lagi? Tahun berikutnya? Saya tidak sedang berasumsi bahwa akan berkurang minat warga untuk menjadi Panitia Kurban, melainkan saya hanya meyakinkan anda semua bahwa akan muncul EO Idul Adha jika hal tersebut terjadi.

Ketika semua orang enggan menjadi Panitia Kurban, maka dimata pengusaha, hal tersebut adalah sebuah peluang untuk mendirikan sebuah EO Idul Adha. Yang artinya mereka Profesional, berbayar, tidak murah. Berikutnya adalah Panitia Kurban harus menambah budget untuk menyewa EO. Yang artinya berkurangnya kesempatan kebersamaan untuk masyarakat. Bukankah ini event umat islam, bukan individu atau golongan?

Apakah hal itu ( hilangnya kebersamaan ) yang ingin disampaikan Allah, lewat hari raya idul adha? Apakah anda ingin Idul Adha berubah menjadi Komersil?
Ah, jadi inget ada yang kurban sapi berspanduk pasangan capres-cawapres. Tuh, belum-belum idul adha ditunggangi politik tho. Bakal ada EO idul Adha beneran kalau panitia ga dapat jatah.

Menurut pendapat saya yang bukan siapa-siapa ini, panitia boleh mendapat jatah daging hewan kurban demi idul adha itu sendiri.Karena ada unsur selain ikhlas disini, yaitu “kebersamaan“.

Advertisements

4 comments on “Katanya Ga Boleh? Beneran??

  1. blogger sragen
    October 16, 2013

    kalau menurut saya panitia memang tidak boleh mndapat jatah dari daging korban tapi secara personal kalau memang dia berhak memperoleh ya dapat. tapi status bukan sebgai panitia namun sebagai orang yg berhak.

    makanya di beberapa yayasan dan mansjid yang sudah mengerti aturan ini memberikan sedikit biaya untuk panitia.

    kurban menurut saya sudah ada aturan dan itu sangat sangat perlu di taati agar proses korban benar dan bukan beralih fungsi menjadi sedekah 😉

    #dadi ustadz sedelo wkwwwkk

    Like

  2. jampang
    October 16, 2013

    daging kurban itu beda dengan zakat. siapa yang menerima zakat sudah ditentukan, tidak boleh kepada selain 8 golongan tersebut (lihat surat at-taubah ayat 60)

    sedangkan daging kurban, tidak dikhususkan kepada siapa saja pembagiannya. siapa pun boleh, orang non muslim pun boleh diberikan. yang nggak boleh cuma satu, menjual daging kurban, termasuk kulitnya. jadi panitia ya boleh dapat hadiah daging kurban

    Like

  3. Iwan
    October 16, 2013

    Panitia qurban beda sama amil zakat mas. 🙂
    Panitia qurban tidak disyaratkan mendapat upah berupa daging sembelihan. Rasulullah tidak mencontohkan demikian. Namun jika panitia mendapat bagian sebagai seorang muslim, sebagai hadiah, maka itu diperbolehkan selama bukan diambil dari 1/3 jatah fakir miskin.
    Jika status panitia itu adalah fakir miskin, justru lebih boleh lagi dia menerima.

    Jadi intinya boleh, asal niatnya bukan sebagai UPAH.

    Nek di kampungku sana, pas pembentukan panitia, sudah diwanti-wanti sama pak ustadz, kalo yang pengen cari daging qurban jangan jadi panitia, nanti malah ga ikhlas. Mending ga usah jadi panitia, dirumah saja, nanti dikasi. Hehehehe… 🙂

    Like

  4. asepsaiba
    October 29, 2013

    Maaf belum bisa mengomentari tentang boleh / tidaknya panitia dapat jatah daging qurban.. Ilmunya belum sampai.. hehe..

    Salam kenal ya…

    Like

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Cerita and tagged , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: