SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Kisah Sebuah Janji

Malam itu begitu dingin. Apalagi diluar sana hujan mengguyur dengan lebatnya. Membuat beberapa orang terpaksa menghentikan kendaraannya dan menepi hingga reda. “Berapa mas?” ucap seseorang mengagetkanku. Spontan aku menoleh kearah suara itu berasal. Seorang pemuda sudah berdiri didekatku. Kulihat billing yang bertanda merah, “3500” balasku dengan cepat. kemudian ia menyerahkan lipatan uang sambil berkata “mas, ini kurang seribu. Segera saya tambahkan setelah ambil dirumah nanti.”

Kuperhatikan wajahnya,  kuamati. Sambil tersenyum aku berkata “Tidak perlu. Udah ini aja gapapa“.
Engga, engga mas. Ga enak“.
Ngga papa, daripada ujan-ujan kesini. Malah masuk angin ntar“.
ndak apa-apa mas, rumahku cuma disitu kok” ucapnya sambil menunjuk kearah jalanan yang gelap.
Tak berapa lama, ia menyiapkan sepeda anginnya. Meski hujan masih lebat dan belum ada tanda-tanda akan mereda, dikayuhnya sepeda itu cepat-cepat menuju arah yang ia tunjuk tadi. Kuperhatikan dia hingga hilang diujung jalan. Bukan berprasangka buruk namun jika dia tidak kembalipun tidak mengapa.

Hujan semakin deras, tidak ada tanda-tanda akan mereda. Cahaya kilatan petir menerangi jejak jalanan yang hitam. Suaranya menggelegar memekakkan telinga. Siapapun orangnya, besar kemungkinan akan memilih untuk meringkuk didalam kamar dan menikmati hangatnya suasana. Bercengkerama dengan keluarga sambil menikmati segelas susu cokelat hangat atau bersembunyi dibalik selimut yang tebal dan wangi.

Jarum jam menunjuk angka 11 malam dan John Petrucci masih setia memetikkan gitarnya untuk menemaniku malam ini. Lagu Build me up, Break me down yang dibawakan-nya menghentak malam yang dingin dan sepi. Meramaikan meski hanya lewat headphone di telinga. “maaf mas, ini kurangannya
Suara itu begitu tiba-tiba. Aku tertegun. Kulihat, dia benar-benar datang demi membawakan kekurangan pembayarannya. “Subhanallah..” ucapku sambil menerima uang itu. Badannya basah kuyup dan terlihat kedinginan. Ia memilih tetap menembus hujan demi melunasi janjinya. Keteguhan hati yang luar biasa. “..Terima kasih ya”  ucapku tulus. Dia membalasnya dengan anggukan. “Namanya siapa mas?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.

Mukhlis” jawabnya singkat. “Saya Wawan, Terima kasih mas Mukhlis“.
Saya menjabat tangannya erat. Saya angkat topi atas keputusan yang ia buat malam ini. Sebuah keberanian dalam mempertahankan dan memenangkan sisi baik dalam hatinya.
Saya pulang dulu mas, udah kangen bantal” pamitnya.
Iya, silahkan. Terima kasih mas. Jangan lupa minum yang hangat
Assalamualaikum
Wa alaikum salam

Iapun berlalu. Sepeda anginnya berdecit diantara riuhnya air hujan yang turun sambil mendendangkan lagu sepi.

Advertisements

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 13, 2013 by in Cerita and tagged , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: