SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Sang Pengawal Ksatria

Dia sedang mengambil sejumput garam ketika anak-anaknya hendak pergi sekolah. Dengan senyum mengembang, ia sambut tangan anaknya yang hendak meminta doa sebelum meninggalkan rumah. Tangan-tangan kecil itu ia raih, menariknya dalam pelukan. Pesan-pesan disampaikan dengan suara yang paling lembut di telinga. Sang anak takzim mendengarkan pesan Ibunya. Matanya penuh cahaya. Ada sesungging senyum dari bibir mereka. Pesan itu diakhiri dengan kecupan dikepala dan usapan tangan yang mulai berkeriput.

Ia mengantarkan hingga depan pintu. Melepas dengan doa dan melambaikan tangan hingga anak-anaknya menghilang di ujung jalan. Iapun bergegas kembali pada aktivitasnya semula. Menguleni adonan roti pesanan yang akan diantar sore ini. Sejenak kakinya terhenti didepan pintu kamar anak-anaknya. Bukan kamar yang besar, tapi cukup untuk menidurkan dua buah cintanya. Ia amati kamar itu, lumayan tertata. Ada kebanggaan dihatinya melihat itu semua. Sekecil itu, sanggup menata kamarnya sendiri meski belum rapi.

“Anakku sudah besar” ucapnya.

Segera ia campur tepung dengan ragi dan beberapa bahan yang lain. Dengan hati-hati adonan roti itu ia uleni. Tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu pelan. Lembut namun kuat. Lengannya sesekali menyeka peluh yang mulai membasahi.

“Saat ini masih susah untuk mencari Bacaleg perempuan” ucap seorang politikus di layar televisi. Tampaknya ia mengeluhkan syarat jumlah minimal calon perempuan dalam partai. “Banyak dari mereka yang masih berfikir bahwa perempuan itu dibelakang, konco wingking. Ngurusi dapur, kasur dan sumur” lanjut politikus tersebut.

Tangan wanita paruh baya tersebut masih menari-nari bersama tepung dan air saat sang politikus menceritakan kondisi partai besutannya. Ia tidak begitu antusias dengan apa yang didengarnya. Hanya sesekali matanya menatap layar televisi yang menjadi temannya siang itu.

Satu adonan sudah jadi, tinggal menunggu fermentasi. Ia mengambil beberapa plastik besar untuk menutupinya. “Wanita ngga perlu eksis” ucapnya pelan. “Justru tugas wanita jauh lebih berat daripada lelaki. Menyiapkan pondasi mental dengan sebaik-baiknya kepada generasi yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini” tambahnya sambil membersihkan loyang.

“Menjadi ibu rumah tangga malah karir yang terbaik. Dapat menentukan wajah sebuah bangsa dari hasil didikannya”. Ia terus mengusap loyang yang akan digunakan. Dengan sedikit mentega, ia olesi loyang tersebut. “Bayangkan jika seluruh wanita di negeri ini mencetak generasi Ksatria yang tidak akan terlena dengan iming-iming harta benda, tegas terhadap benar dan salah”. Tangannya berhenti, mata indahnya menerawang jauh. Berbagai kekacauan bangsa ini melintas dalam pikirannya. Muncul satu persatu, teruntai menjadi sebuah catatan kelam. “Maka ia, Umar ra, seakan hidup kembali”

-o-

Advertisements

2 comments on “Sang Pengawal Ksatria

  1. Liza
    December 16, 2013

    ibu saya juga ibu rumah tangga. beliau memilih menjadi fulltime mother untuk kami anak2nya

    Like

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 14, 2013 by in Cerita and tagged , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: