SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Beda Warisan Budaya dan Cagar Budaya | Travel Heritage

Saat berada dalam acara Travel Heritage yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY, saya terdiam. Merenungi suatu hal yang dikatakan teman baru yang beberapa jam sebelumnya berkenalan di lobi Cavington Hotel. Kita, selaku generasi muda lebih membanggakan diri ketika merasa mengetahui dan menggunakan budaya negara lain, katanya. Selaku generasi muda, kita lebih memilih menggeluti budaya negara lain dan tenggelam di dalamnya dari pada mencintai budaya sendiri. Ia mencontohkan hal tersebut dengan keris yang diletakkan di belakang pinggang. Tahukah makna kenapa keris diletakkan disana? Di belakang pinggang sebelah kanan yang sulit digapai tangan kanan dan bukan di depan perut atau samping kiri seperti yang sering kita lihat di film samurai.

Ia menjelaskan, pendahulu kita ingin mengajarkan bahwa apabila hendak menyelesaikan suatu masalah, seyogyanya keris (kekuatan/kekerasan) adalah hal paling akhir untuk digunakan. Bahkan ketika hal tersebut (kekerasan) adalah jawaban, masih juga dipersulit. Hal itu dibuktikan dengan sulitnya meraih dan menarik keluar keris dari sarungnya.

Makna lain yang ia kisahkan. Adalah bahwa keris (kekuatan) bukan untuk diperlihatkan/dipamerkan. Melainkan menjadi pelengkap/pendukung untuk berbuat baik kepada orang sekeliling kita. Hal tersebut sejalan dengan konsep Migunani Tumraping Liyan, berguna bagi orang lain.

Terlepas dari tepat tidaknya pemaknaan salah satu bagian budaya yang diutarakan teman baru tersebut, saya merasa, jika hal tersebut positif atau membangun maka hal itu baik untuk direnungkan. Toh pada dasarnya apa yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa generasi muda kita cenderung mudah tersulut amarah dan memilih menyelesaikan masalah dengan tawur, gelut, hingga bersimbah darah berkalang tanah.

Dari kenyataan diatas, tampaknya masih relevan jika dikatakan Warisan Budaya belum sepenuhnya terserap atau dimanfaatkan secara luas.

Tapi sebelumnya, apasih sebenarnya Warisan Budaya dan Cagar Budaya itu? Apakah arti Warisan Budaya dan Cagar Budaya? Apa bedanya Warisan dan Cagar Budaya? Jika pertanyaan itu disampaikan kepada para muda, kira-kira berapa banyak yang bisa menjawab. Tak perlu jauh-jauh, data dibawah ini saya dapatkan dari modul yang diberikan oleh Bapak Ir. Suyata dari Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (DP2WB) DIY, bukan karena memang saya mengetahui. Saya memasukkan diri saya ke dalam generasi muda yang hilang jawanya.

Travel Heritage

Keynote Speaker : Ir. Suyata. Foto oleh Jeanot

Beda Warisan Budaya dan Cagar Budaya

Warisan Budaya adalah benda warisan budaya, bangunan warisan budaya, struktur warisan budaya, situs warisan budaya, kawasan warisan budaya di darat dan atau di air yang penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan dan telah tercatat di Daftar Warisan Budaya Daerah. Disebut Warisan karena belum ditetapkan tetapi sudah terdaftar dalam daftar warisan budaya, menurut Suyata, DP2WB DIY.

Cagar Budaya adalah Warisan Budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan /atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan yang dilestarikan melalui proses penetapan.

Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Warisan Budaya dan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara : Melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya. Hal yang sudah dilakukan adalah melindungi, karena itu adalah tugas semua pihak. Pada tahapan pengembangan, terlihat baru sebagian. Sedangkan pemanfaatan belum sepenuhnya. Inilah yang perlu dilakukan terobosan-terobosan untuk menuju kesana. Karena jika hanya berhenti pada tahap pengembangan, maka manfaat dari nilai penting yang ada pada warisan dan cagar budaya ini tidak tersampaikan. Sebagai contoh pemanfaatan adalah Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, Bank BNI yang menggunakan gedung masa kolonial, Legend Coffe yang menggunakan rumah indische, Malioboro meski belum tertata dengan baik, dan beberapa yang lain. Adalah satu contoh kecil pemanfaatan dari bangunan cagar budaya. Bayangkan apabila dilakukan pada seluruh kawasan. Pasti akan sangat menarik.

Sehubungan dengan pelestarian Warisan Budaya, ada beberapa tipe masyarakat yang bisa kita kelompokkan. Yang pertama adalah masyarakat yang senang akan Warisan Budaya dan Cagar Budaya tetapi kurang memahami dan mengerti manfaat terhadap pelestaria Warisan Budaya dan Cagar Budaya tersebut.

Kedua, Masyarakat yang memahami dan mengerti akan warisan Budaya dan Cagar Budaya namun kurang senang melestarikanna karena dipandang meboroskan biaya pemeliharaan dan tidak ekonomis. Ketiga, Masyarakat yang senang dan mengerti akan arti penting Warisan Budaya sehingga timbul kesadaran untuk melestarikannya. Dari ketiga tipe masyarakat itu, kira-kira kita ada di nomor berapa ya? Semoga kita masuk di tipe yang ke tiga ya teman-teman. Ke dalam kelompok masyarakat yang senang dan mengerti serta sadar untuk melestarikan Warisan Budaya dan Cagar Budaya.

Advertisements

One comment on “Beda Warisan Budaya dan Cagar Budaya | Travel Heritage

  1. Pingback: Beda Mayday dan May Day | SatusatuenMagz

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: