SatusatuenMagz

Menulis Mengabarkan

Menantang Diri Sendiri : Gowes Wimcycle Sampai Pantai Parangtritis

Menantang Diri Sendiri.

wimcycle gowes parangtritis

Ayo gowes kakak

Mendengar rencanaku, lebih tepatnya, mendengar apa yang saya lakukan, teman saya berkata “Kurang Kerjaan!!”. Hahaha. Mungkin ada benarnya juga :v . Ketika ada hari yang longgar dan karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh ditambah tidak meneguk vitamin sea, terpilihlah hari tersebut untuk menantang diri sendiri.

Saya dan istri memutuskan, memanfaatkan hari tersebut untuk mengunjungi pantai Parangtritis. Pantai yang biasa menjadi jujugan setiap wisatawan luar kota bila melancong ke Yogya. Tapi kali ini, kami melakukan hal yang tidak biasa kami lakukan. Bila sebelumnya selalu menggunakan kendaraan bermotor untuk perjalanan jauh, maka pada kesempatan ini, kami menggunakan sepeda angin. Ya, sepedaan dari kota Yogya menuju Pantai Parangtritis. Terdengar biasa kali yak, buat njenengan yang hobi bersepeda. Tapi bagi pemula macam kami ini, sungguh istimewa. Gowes ke Pantai Parangtritis? Wooow. Kurang kerjaan banget.

Kami berangkat bertiga. Saya, Istri dan Irul. Sebagai anak kecil – yang bahkan belum berani bersepeda – Irul hanya membonceng. Masa iya, dia saya suruh boncengin ibunya. Bisa-bisa saya langsung diseret ke rumah sakit jiwa, buat periksa gigi. #eh

wimcycle gowes parangtritis

Ibu dan Irul. Gowes di depan.

Istri dan Irul, menggunakan sepeda jengki yang tidak bermerk. berwarna pink dengan keranjang tua di depannya. Bagian bawahnya sudah rusak. Karatan. Sehingga bila ingin menggunakan keranjang tersebut, kami harus memasukkan kertas tebal semacam goodie bag untuk melapisinya. Sepeda itu selalu berbunyi “sroook” setiap kali pedal kanan menyentuh penutup rantai. Benar, pedal dan penutup rantainya bersentuhan, bergesekan. Tapi mereka berdua muhrim kok. Jadi tidak apa bersentuhan. Berbeda dengan yang suka pacaran itu, yang belum muhrim tapi sudah bersentuhan luar dalam, saling bergesekan. #hash

wimcycle gowes parangtritis

Lets Gowes. Kemana saja.

Saya menggunakan sepeda lipat produk dari Wimcycle, Pocket Rocket standar 20 inch warna merah. Sadelnya empuk. Boncengannya saya custom dikit. Karena dari sononya ngga pake pengempuk – #LukirabikinrotiPakepengempuksegala – maka saya memasang bantal kecil. Gunanya, agar Irul yang gemar pindah-pindah boncengan tidak mengeluh “Yah, bokongku sakit”.

wimcycle gowes parangtritis

style “siap boncengin irul”. tas di depan, custom boncengan.

Awal gowes, santai. Sambil ngobrol. Waktu itu pukul 05.44 pagi ketika mulai kayuhan pertama. Jalanan masih lumayan lenggang. Hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Tapi sampai di perempatan Ring Road, banyak kendaraan berhenti. Ngga tau tuh pada antri apa. #abaikan

Menggunakan sepeda lipat atau folding bike Pocket Rocket ini mengasyikkan. Setiap mata yang berpapasan selalu memerhatikan sepeda yang saya pakai. Mungkin mereka berpikir, “sepedanya sih keren, yang naik naudzubillah”. ok, saya cukup tau diri kok.

wimcycle gowes parangtritis

The Red Wimcycle Pocket Rocket. Berteman dengan sayur organik di rumah.

Jarak kota Yogya menuju Pantai Parangtritis kurang lebih 30 kilometer. Meski demikian, lumayan enak lah. Selain karena jalanan mulus, point utama adalah jalannya menurun. Sehingga pada jam 06.47 kami sudah mencapai kilometer 17,5. Satu suara kecil terdengar dari arah belakang. “Ayah, bokongku sakit. Brenti dulu”.  Ternyata boncenger kecil itu sudah merasakannya. Kami mencari tempat istirahat.

wimcycle gowes parangtritis

Istirahat dulu. Tuh pocket rocket custom mau dikemanain mas Irul?

Kami beristirahat di tempat itu kurang lebih 15 menitan. Sempat juga berfoto-foto di area persawahan di belakang toko tempat kami berhenti. Mencuri kesempatan untuk memperkenalkan tumbuhan padi kepada Irul dan beberapa tanaman yang berada di area persawahan tersebut. “Bokongnya udah sembuh belum?” tanyaku akhirnya. “Udah, yah” jawab irul. “Kita lanjut ya”. “oke” jawabnya sambil ngemil pisang mas yang kami bawa dari rumah.

Kami bertiga memang tidak sarapan dari rumah. Hanya membawa satu sisir pisang emas dan 2 botol minuman mineral. Itu saja. Tapi sesampainya di Sruwuh, beberapa menit sebelum jembatan Sungai Opak, kami berhenti. Mengingat perut kecil Irul juga belum terisi, meski nyemil pisang dari tadi, tetap saja ia harus makan nasi. Kami berhenti tepat di depan ibu yang menjual bubur nasi. Awalnya sih, hanya memesan untuk Irul. Tapi kok lama-kelamaan pengin makan juga.

wimcycle gowes parangtritis

Makan yang banyak ya Bu. Dietnya lupain dulu

Menjelang jembatan Opak, Kretek – nama daerah bukan jenis rokok – mulailah perjuangan dengkul. Bisa njenengan bayangken. Menggunakan sepeda lipat yang enaknya untuk jarak dekat, melaju di jalanan yang menanjak, bawa tas dan boncengin anak, rasanya tuh seperti kejatuhan jackpot. Tapi jatuhnya persis di dengkul. Makbruuk, trus kita bilang “aduh hiyuung”. Tapi lumayan lah, boleh melewati pos retribusi tanpa pake acara bayar membayar. Mungkin karena petugasnya pakewuh. Masa tega mau nyomot pajak dari orang ganteng.

Tanjakannya tidak hanya di jembatan itu. Masih ada beberapa di depan. Irul mah asik aja. Tiap jalanan menurun dan sepeda melucur dia berteriak “yeeeeeeeeeeeeeeeeey”. Ngga tau apa rasanya. Dengkul tua inih. :v :v

Mencapai Pantai Parangtritis, saya berbangga hati. Sambil mengirup udara pantai, saya berkata “Aku telah mengalahkan Aku”. Ngga papa nggak ada kertas kelip-kelip beterbangan diiringi tepukan tangan dan sorak sorai serta sambutan. Yang penting, aku telah mengalahkan aku yang sempat ingin mengurungkan niat sebelumnya. Mengalahkan aku yang sempat ingin mengganti tujuan ke tempat yang lebih dekat. Mengalahkan aku yang sempat ingin menyerah. “Yee yee, aku menang”.

wimcycle gowes parangtritis

Nyampe pantai. Waktunya elus-elus dengkul.

Aku Mengalahkan Aku ( Lagi )

Setelah Irul lelah membangun istana pasir, aku puas bermain dengan buih-buih pantai, Ibunya yang sudah memerah karena berjemur, serta perutku yang memainkan lagu 90an, kami memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba terbayang, perjalanan panjang yang terbalik. Semula menurun sekarang menjadi mendaki. Kalau tidak salah, kota Yogya berada 100 meter diatas permukaan laut. Artinya adalah……

“Wahai dengkul, kuatlah dan bersabarlah.”

Saya dan Irul masih menggunakan Wimcycle Pocket Rocket, dan Istri menggunakan pinky jengki-nya. Perjalanan panjang pulang sudah dimulai. Beberapa komunitas pesepeda yang berpapasan melempar senyum dan sapa. Ada satu orang yang melihat saya dengan lekat sambil sedikit menggelengkan kepala. Entah apa yang beliau pikirkan, tapi rasanya saya tahu. :v  Saya mengerti mas, saya mengerti.

Menjadi pesepeda di jalanan yang mana kendaraan bermotor melaju kencang tuh rasanya seperti berada diantara hidup dan mati. Beberapa kali istri saya diklakson mobil. Padahal waktu itu cukup lenggang. Mungkin si sopir pengin jalanan bener-bener steril sehingga ia perlu meklakson kami yang sudah di pinggir. Tidak jarang juga kami mendapati mobil mendahului mobil lain dan menghabiskan “jatah jalan” untuk kami. Sedangkan kami tidak berjalan berdampingan.

Tapi tetep, ada hal yang menyenangkan. Adalah saat bertemu dengan sekelompok pesepeda yang sedang beristirahat. Mereka melihat kami mendekat, mereka lantas membunyikan bel yang berada di stang sepeda masing-masing. “klintong kring klintong kring klintong klintong kring”. Rame banget. Terus menerus hingga kami lewat dan menjauh. Saya hanya bisa menyapa, tanpa bisa membalas bel mereka. Lha Pocket Rocket-nya belum dipasang bel. 😀

Terlepas semua itu, acara kami kemarin cukup menyenangkan. Menekan diri kami sendiri hingga batas tepi. Tetap semangat meski lelah. Tetap menatap kedepan meski ada tanjakan. Ayoo, kapan mau ngajak saya gowes? saya ntar sama Wimcycle Pocket Rocket merah.

Sponsor : Jogjaminded.com

Advertisements

9 comments on “Menantang Diri Sendiri : Gowes Wimcycle Sampai Pantai Parangtritis

  1. aqied
    September 7, 2015

    Jadi, nyampe rumah lagi jam berapa, om?

    Like

    • Satusatuen
      September 7, 2015

      Sebenere siang jam 12 gitu bisa nyampe rumah. Tapi mampir ke pemancingan dulu. Irul ngajak mancing.

      Like

  2. ipah kholipah
    September 8, 2015

    gak pegel mas pulang pergi naik sepeda 🙂

    Like

    • Satusatuen
      September 8, 2015

      Pegel. Dengkul rasanya mau meledak.Tapi justru itu kita bisa tahu seberapa kuat kita mempertahankan semangat.

      Like

  3. ElementMTB
    October 2, 2015

    kereen 🙂

    bagi para goweser yuk kunjungi website elementmtb.com buat yang ingin tahu tentang jenis-jenis dan tipe-tipe sepeda element..

    dan jangan lupa untuk like page FB “Element MTB” yah..trimakasih ^^ salam gowes untuk semuanya 😀

    Like

  4. adi pradana
    December 2, 2015

    sangunya musti banyak nih mas, perjalanan jauh naik sepeda

    Like

  5. Pingback: Tiga Pantai Nampu Wonogiri Yang Mempesona | SatusatuenMagz

  6. Pingback: Tega, Dijamu Cappucino Kadaluarsa Oleh Progo Rafting | SatusatuenMagz

Tinggalkan Pesan ya Sist/Bro (Leave a comment Please)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 7, 2015 by in Cerita and tagged , , , , , .

Suka pake ini. Kamu?

download chrome

Me


Hai, Selamat datang dan selamat membaca. Tolong tinggalkan jejak disini.
Please, write a comment. Thanks visitin' this blog

Komunitas

Komunitas Blogger Jogja

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: